Penyakit Sifilis Pada Ibu Hamil

Penyakit sifilis pada ibu hamil yang pasti ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya melalui plasenta. Transmisi sifilis vertikal (penularan ibu ke janin) mumgkin terjadi pada setiap fase penyakit sifilis. Pada sifilis primer, kemungkinannya adalah sebesar 50%, pada sekunder 50% sedangkan pada tersier menurun menjadi 10%. Tidak masalah apakah infeksi penyakit sifilis didapatkan sebelum atau di tengah kehamilan. Sifilis juga dapat mempengaruhi kehamilan dan meningkatkan risiko abortus spontan, gangguan pertumbuhan janin dan kematian bayi baru lahir.

penyakit-sifilis-pada-ibu-hamilOleh sebab itu, setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan VDRL dan TPHA agar sifilis yang diberikan sebelum 16 minggu usia kehamilan dapat mencegah penularan. Jika tidak segera diterapi atau bila ibu baru terinfeksi sifilis pada trisemester kehamilan terakhir, maka janin dapat mengalami gangguan atau lahir dengan sifilis kongenital. Namun ada juga yang tidak bertahan dan lahir mati.

Sifilis kongenital pada awalnya dapat tidak menunjukkan gejala papaun. Gejala yang dapat terlihat biasanya anak rewel, demam yang tidak khas, gangguan tumbuh kembang, bercak-bercak kulit, nyeri tulang, atau bahkan kondiloma latum pada mulut, anus, dan daerah kelamin. Ada juga tanda khas seperti gigi Hutchinson yaitu adanya takik pada permukaan inisisal (gigit) gigi.

Terapi sifilis pada ibu hamil

Sampai saat ini, menurut Dr. Silviani, Penisilin masih menjadi obat pilihan sifilis. Obat ini aman digunakan bagi ibu hamil serta bayi dan efektif untuk semua stadium sifilis. Bagi yang tidak tahan (alergi) dengan obat-obatan golongan penisilin, maka diberikan antibiotik alternatif lain seperti doksisiklin, ertitromisin dan azitromisin.

Setelah terapi dengan antibiotik, terkadang pasien mengalami reaksi yang disebut reaksi Jarisch-Herxheimer. Penyebab sifilis pada ibu hamil adalah adanya respin tubuh terhadap bakteri yang mati akibat pemberian antibiotik. Reaksi tersebut biasanya muncul antara 1-12 jam setelah suntikan penisilin pertama. Gejala sifilis yang diderita ibu hamil antara lain badan terasa lemas, suhu tubuh meningkat, jantung berdebar. Dan jika ada kelainan kulit maka lesi tersebut akan tampak lebih jelas atau memberat. Umumnya reaksi akan berakhir dalam waktu 6-12 jam. Pada ibu hamil, reaksi ini dapat meningkatkan kontraksi rahim dan risiko merangsang persalinan. Sehingga pada kasus tersebut, pengawasan kontaksi rahim dan kondisi janin sangat dianjurkan post-penyuntikan penisilin.

Memonitor dan Pencegahan Penyakit Sifilis Pada Ibu Hamil

Dr. Silviani menganjurkan untuk pasien sifilis primer dan sekunder menjalani evaluasi pengobatan dengan VDRL pada 1, 3, 6 dan 12 bulan setelah pengobatan. Dari pemeriksaan tersebut dapat ditentukan langkah pengobatan selanjutnya. Jika hasil pemeriksaan memuaskan selama periode 2 tahun setelah terapi, maka pasien dapat dinyatakan sembuh.  Sedangkan bagi mereka yang menderita sifilis tersier atau terdeteksigangguan jantung akibat sifilis, monitor seumur hidup tidak dapat terhindari.

Pencegahan sifilis tentunya saja dengan menghindari (abstain) hubungan seksual tidak aman. Setia dengan pasangan pastinya menjadi solusi pencegahan. Namun pastikan terlebih dahulu kalau pasangan Anda tidak terinfeksi. Penggunaan kondom dapat membantu tapi perlu diingat, luka sifilis bisa terdapat di area sekitar kelamin yang tidak terlindungi kondom.

klasifikasi penyakit sifilis pada ibu hamil.

Penyakit sifilis ditandai dengan beberapa tahap yaitu:

1. Stadium satu.

stadium ini di tandai oleh timbulnya luka yang kemerahan dan basah di daerah sekitar vagina, poros usus atau mulut. Luka ini di sebut dengan chancre. Luka chancre akan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Terjadi pembengkakakan kelenjar getah bening dan setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Stadium satu ini merupakan stadium yang sangat menular untuk penyakit sifilis pada ibu hamil.

2. Stadium dua.

Pada stadium 2 ini apa bila penyakit sifilis pada stadium satu tidak segera di obati akan lanjhut pada stadium 2, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. gejala-gejala yang mirip dengan flu, adanya rasa demam dan pegal-pegal, yang mungkin juga di alami pada stdium ini.stadium dua biasanya berlangsung selama 1-2 minggu.

3. Stadium tiga.

kalau penyakit sifilis pada ibu hamil stadium dua juga belum dilakukan pengobatan, para penderita akan mengalami sifilis laten. Pada tahap sifilis laten ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang dengan sendirinya, namun sesungguhnya penyakit sifilis akan terus bersarang dalam tubuh. Dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh, penyakit sifilis laten ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.

4. Stadium empat.

penyakit Sifilis pada ibu hamil pada stadium ini di sebut juga dengan sifilis tersier. Pada stadium empat ini, firus spirochaeta telah menyebar keseluruh tubuh dan dapat merusak jaringan otak, jantung, batang otak, dan tulang.

Penyakit sifilis pada ibu hamil dapat mempertinggi resiko terinfeksi HIV. Hal ini di karenakan lebih mudahnya virus HIV masuk kedalam tubuh seseorang bila terdapat luka, sifilis yang diderita akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak segera di obati. Spirochaeta dapat menyebar keseluruh tubuh dan menyebabakan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat di pulihkan kembali. penyakit sifilis pada ibu hamil yang tidak di obati juga dapat menyebabkan cacat lahir primer pada bayi yang di kandungnya.

 


=====================================

>>> Propolis Melia Nature Untuk Pengobatan Penyakit Sifilis, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Penyakit Sifilis and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>