Penyakit Sifilis

Penyakit Sifilis atau raja singa adalah penyakit menular seksual yang sangat berbahaya apabila tidak diobati. Penyakit ini disebabkan oleh treponema pallidum. Bakteri Treponema Pallidum masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir, seperti selaput lendir di vagina atau mulut dan melalui kulit.

penyakit-sifilisBagaimana cara penularan Penyakit Sifilis?

Penularan sifilis biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti penularan melalui ibu ke anak dalam uterus. Ketika Treponema Pallidum menginfeksi maka bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, lalu menyebar keseluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan. Seseorang yang pernah terinfeksi oleh sifilis tidak akan menjadi kebal dan bisa terinfeksi kembali.

Bagaimana Gejala Penyakit menular seperti Sifilis?

Gejala sifilis dapat dilihat berdasarkan tahapan infeksi Treponema Pallidum menjadi empat fase, yaitu:

1. Fase Primer Sifilis

Ciri : Terbentuk luka akan muncul sekitar 3-4 minggu setelah infeksi.Luka atau ulkus yag tidak terasa sakit pada tempat terinfeksi, seperti pada penis, vulva, dan vagina. Ulkus juga ditemui di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, dan jari-jari. Ulkus mulai timbul sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi suatu luka terbuka tanpa disertai rasa sakit. Ulkus tersebut tidak mengelurkan darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan bening yang menular.

2. Fase Sekunder Penyakit Sifilis

Ciri: Ruam kulit muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah infeksi. Ruam bisa hilang meskipun tidak diobati, tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam baru dan juga muncul ulkus di mulut. Penderita akan mengalami beberapa peradangan, seperti pelebaran dan pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya, peradangan mata, tulang dan sendi, ginjal, hati, juga selaput otak.

Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala,tetapi terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Penderita juga mengalami peradangan pada tulang dan sendi yang disertai rasa sakit. Peradangan pada ginjal bisa menyebabkan protein masuk kedalam urin. Peradanagan hati bisa menyebabkan penyakit kuning (Jaundice). Adapun peradangan pada selaput otak (Meningitis sifilitik akut) akan menimbulkan gejala seperti menyebabkan sakit kepala, kerontokan, kutulian, tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia.

3. Fase Laten Penyakit Sifilis

Ciri: Pada fase ini tidak ada gejala sama sekali, seperti sembuh. Berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, namun bisa muncul kembali yang didukung oleh beberapa faktor, seperti menurunnya sistem imunitas, perilaku seksual yang tidak sehat, pola makan yang tidak teratur, merokok, pola hidup yang tidak bersih, pemaparan ulang bakteri Treponema Pallidum.

4. Fase Tersier Penyakit Sifilis

Ciri: Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya, tetapi timbul berbagai gejala seperti sifilis tersier jinak, sifilis kardiovaskuler dan neurosiilis

5. Sifilis tersier jinak

Ciri: Adanya gumma (benjolan) diberbagai organ, tetapi yang paling sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas wajah, dan kulit kepala.

Beberapa gejala penyakit sifilis pada pria antara lain:

  1. Keluarnya cairan atu kotoran dari penis pada laki-laki. Nyeri selama hubungan seksual atu pada saat buang air kecil. Kerongkongan terasa sakit atau ada luka kerongkongan pada orang-orang dengan oral sex.
  2. Nyeri pada daerah sekitar anus pada orang-orang dengan anal sex.
  3. Luka memerah tanpa rasa sakit pada daerah kelamin, anus, kerongkongan dan atau lidah. Urine atau air kencing berwarna gelap, feses berwarna terang, mata dan kulit berwarna kuning.
  4. Bintik merah pada kulit dan bersisik pada telapak tangan dan telapak kaki. Gejala infeksi yang aneh, lelah yang tidak dapat dijelaskan mengapa, keringat malam, berat badan menurun.
  5. Timbul lepuh kecil pada daerah kelamin yang berubah menjadi koreng. Pembengkakan pada kelenjar limfe, demam dan nyeri atau rasa sakit pada seluruh tubuh.

Beberapa gejala penyakit sifilis pada wanita antara lain:

  1. Keluarnya cairan yang tidak normal dari saluran kencing seperti keputihan yang banyak, berbau amis, berwarna putih kehijauan.
  2. Rasa nyeri ketika kencing atau saat berhubungan seksual. Rasa gatal di alat kelamin atau sekitarnya. Adanya Lecet, luka kecil yang kadang sakit dan ada yang tidak terasa sakit yang disertai dengan adanya proses pembengkakan kelenjar getah bening.
  3. Adanya perubahan warna kulit dan mata. Pada wanita, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas atau bahkan tidak mengalami keluhan sama sekali, sehingga wanita mudah menjadi sumber penularan.
  4. komplikasi berupa bartolitis, yaitu membengkaknya kelenjar Bartholin sehingga penderita susah jalan karena nyeri. Komplikasi dapat ke atas menyebabkan kemandulan, jika ke rongga perut menyebabkan radang di perut dan usus.
  5. Pada ibu hamil, bila tidak diobati, saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kebutaan.

Penyakit sifilis dapat dicegah dengan cara seperti berikut:

1. dengan menggunakan kondom dan penggunaan yang tepat dari kondom itu sendiri. Namun, penggunaan kondom, tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.

2. merekomendasikan hubungan jangka panjang dengan satu pasangan yang tidak terinfeksi.

3. menghindari zat seperti alkohol dan zat terlarang lainnya yang dapat meningkatkan risiko perilaku seksual.

4. tidak melakukan seks bebas dengan berganti-gati pasangan.

5. bersikap terbuka dengan pasangan dan membicarakan tentang riwayat penyakit sifilis yang pernah anda derita.

 

 

Posted in Penyakit Sifilis | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Sifilis Pada Ibu Hamil

Penyakit sifilis pada ibu hamil yang pasti ditularkan dari ibu ke janin yang dikandungnya melalui plasenta. Transmisi sifilis vertikal (penularan ibu ke janin) mumgkin terjadi pada setiap fase penyakit sifilis. Pada sifilis primer, kemungkinannya adalah sebesar 50%, pada sekunder 50% sedangkan pada tersier menurun menjadi 10%. Tidak masalah apakah infeksi penyakit sifilis didapatkan sebelum atau di tengah kehamilan. Sifilis juga dapat mempengaruhi kehamilan dan meningkatkan risiko abortus spontan, gangguan pertumbuhan janin dan kematian bayi baru lahir.

penyakit-sifilis-pada-ibu-hamilOleh sebab itu, setiap ibu hamil dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan VDRL dan TPHA agar sifilis yang diberikan sebelum 16 minggu usia kehamilan dapat mencegah penularan. Jika tidak segera diterapi atau bila ibu baru terinfeksi sifilis pada trisemester kehamilan terakhir, maka janin dapat mengalami gangguan atau lahir dengan sifilis kongenital. Namun ada juga yang tidak bertahan dan lahir mati.

Sifilis kongenital pada awalnya dapat tidak menunjukkan gejala papaun. Gejala yang dapat terlihat biasanya anak rewel, demam yang tidak khas, gangguan tumbuh kembang, bercak-bercak kulit, nyeri tulang, atau bahkan kondiloma latum pada mulut, anus, dan daerah kelamin. Ada juga tanda khas seperti gigi Hutchinson yaitu adanya takik pada permukaan inisisal (gigit) gigi.

Terapi sifilis pada ibu hamil

Sampai saat ini, menurut Dr. Silviani, Penisilin masih menjadi obat pilihan sifilis. Obat ini aman digunakan bagi ibu hamil serta bayi dan efektif untuk semua stadium sifilis. Bagi yang tidak tahan (alergi) dengan obat-obatan golongan penisilin, maka diberikan antibiotik alternatif lain seperti doksisiklin, ertitromisin dan azitromisin.

Setelah terapi dengan antibiotik, terkadang pasien mengalami reaksi yang disebut reaksi Jarisch-Herxheimer. Penyebab sifilis pada ibu hamil adalah adanya respin tubuh terhadap bakteri yang mati akibat pemberian antibiotik. Reaksi tersebut biasanya muncul antara 1-12 jam setelah suntikan penisilin pertama. Gejala sifilis yang diderita ibu hamil antara lain badan terasa lemas, suhu tubuh meningkat, jantung berdebar. Dan jika ada kelainan kulit maka lesi tersebut akan tampak lebih jelas atau memberat. Umumnya reaksi akan berakhir dalam waktu 6-12 jam. Pada ibu hamil, reaksi ini dapat meningkatkan kontraksi rahim dan risiko merangsang persalinan. Sehingga pada kasus tersebut, pengawasan kontaksi rahim dan kondisi janin sangat dianjurkan post-penyuntikan penisilin.

Memonitor dan Pencegahan Penyakit Sifilis Pada Ibu Hamil

Dr. Silviani menganjurkan untuk pasien sifilis primer dan sekunder menjalani evaluasi pengobatan dengan VDRL pada 1, 3, 6 dan 12 bulan setelah pengobatan. Dari pemeriksaan tersebut dapat ditentukan langkah pengobatan selanjutnya. Jika hasil pemeriksaan memuaskan selama periode 2 tahun setelah terapi, maka pasien dapat dinyatakan sembuh.  Sedangkan bagi mereka yang menderita sifilis tersier atau terdeteksigangguan jantung akibat sifilis, monitor seumur hidup tidak dapat terhindari.

Pencegahan sifilis tentunya saja dengan menghindari (abstain) hubungan seksual tidak aman. Setia dengan pasangan pastinya menjadi solusi pencegahan. Namun pastikan terlebih dahulu kalau pasangan Anda tidak terinfeksi. Penggunaan kondom dapat membantu tapi perlu diingat, luka sifilis bisa terdapat di area sekitar kelamin yang tidak terlindungi kondom.

klasifikasi penyakit sifilis pada ibu hamil.

Penyakit sifilis ditandai dengan beberapa tahap yaitu:

1. Stadium satu.

stadium ini di tandai oleh timbulnya luka yang kemerahan dan basah di daerah sekitar vagina, poros usus atau mulut. Luka ini di sebut dengan chancre. Luka chancre akan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Terjadi pembengkakakan kelenjar getah bening dan setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Stadium satu ini merupakan stadium yang sangat menular untuk penyakit sifilis pada ibu hamil.

2. Stadium dua.

Pada stadium 2 ini apa bila penyakit sifilis pada stadium satu tidak segera di obati akan lanjhut pada stadium 2, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. gejala-gejala yang mirip dengan flu, adanya rasa demam dan pegal-pegal, yang mungkin juga di alami pada stdium ini.stadium dua biasanya berlangsung selama 1-2 minggu.

3. Stadium tiga.

kalau penyakit sifilis pada ibu hamil stadium dua juga belum dilakukan pengobatan, para penderita akan mengalami sifilis laten. Pada tahap sifilis laten ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang dengan sendirinya, namun sesungguhnya penyakit sifilis akan terus bersarang dalam tubuh. Dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh, penyakit sifilis laten ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.

4. Stadium empat.

penyakit Sifilis pada ibu hamil pada stadium ini di sebut juga dengan sifilis tersier. Pada stadium empat ini, firus spirochaeta telah menyebar keseluruh tubuh dan dapat merusak jaringan otak, jantung, batang otak, dan tulang.

Penyakit sifilis pada ibu hamil dapat mempertinggi resiko terinfeksi HIV. Hal ini di karenakan lebih mudahnya virus HIV masuk kedalam tubuh seseorang bila terdapat luka, sifilis yang diderita akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak segera di obati. Spirochaeta dapat menyebar keseluruh tubuh dan menyebabakan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat di pulihkan kembali. penyakit sifilis pada ibu hamil yang tidak di obati juga dapat menyebabkan cacat lahir primer pada bayi yang di kandungnya.

 

Posted in Penyakit Sifilis | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Gejala Sifilis Fase Tersier

Gejala Sifilis fase tersier adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus). Penyakit sifilis yang diderita oleh ibu hamil apabila saat merasakan mulai adanya gejala penyakit ini muncul pada diri anda dan tidak segera dilakukan pengobatan maka akan mengakibatkan kecacatan pada anak yang adad dalam kandungannya.

Penyakit sifilis pada fase tersier, tidak lagi menularkan penyakitnya, namun timbul berbagai gejala seperti :

1. Gejala sifilis fase tersier Jinak

Ciri-Ciri :

Gejala sifilis fase tersier adanya gumma (benjolan) di berbagai organ, tetapi yang paling sering adalah pada kaki di bawah lutut, batang tubuh bagian atas, wajah, dan kulit kepala. Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya

2. Sifilis Kardiovaskuler

Ciri-Ciri :

Muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal, penderita mengalami aneurisma aorta (kebocoran katup aorta) sehingga menyebabkan sakit pada dada, gagal jantung, atau kematian.

3. Neurosifilis

Ciri-Ciri :

Sifilis pada sistem saraf terjadi pada penderita yang tidak diobati, terdapat 3 jenis neurosifilis, yaitu :

a. Neurosifilis Meningovaskuler

Gejala : Pusing, sulit tidur, konsentrasi memburuk, kejang, kelelahan, kurang tenaga, kelainan mental, kelumpuhan anggota gerak pada separuh badan, gangguan bicara (afasia), pandangan kabur, pembengkakan saraf mata (papiledema) dan kelainan pupil.

b. Neurosifilis Paretic

Gejala : Mengalami demensia, sakit kepala, sulit tidur, lelah, mudah tersinggung, kurang konsentrasi, kejang, kesulitan dalam berbicara, kelumpuhan separuh badan, kemunduran dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian, depresi, dan penurunan persepsi.

c. Neurosifilis Tabetik

Gejala : Rasa sakit di tungkai, hilang keseimbangan tubuh, mengalami infeksi saluran kemih, impotensi, kejang, terbentuk luka di kaki dan menembus tulangnya, sendi sering mengalami cidera, serta gemetar pada bibir, lidah, tangan dan seluruh tubuh penderita.

Pencegahan penyakit sifilis yang dapat anda lakukan antara lain:

  • Cara yang paling tepat dan pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual atau penyakit raja singa atau sifilis ini adalah dengan tidak melakukan hubungan seksual secara bebas.
  • Pencegahan yang 100% efektif adalah menikah dengan perawan yang sehat. Jika belum dapat, lampiaskan birahi dengan melakukan mastrubasi.
  • Gunakan pengaman kondom dan pastikan anda menggunakannya dengan baik dan benar untuk mengurangi penyebaran penyakit sifilis.
  • Pastikan toilet yang digunakan bersih atau anda dapat mengelapnya dengan menggunakan tisu basah ataupun tisu yang sudah disediakan dalan kamar mandi. Dan usahakan untuk menghindari penggunaan toilet duduk di tempat umum seperti mall dan tempat umum lainnya.
  • Bersikap terbuka dan mau jujur dengan pasangan apabila anda memiliki penyakit menular seksual seperti sifilis.

Apabila anda sudah merasakan adanya gejala sifilis fase tersier muncul pada diri anda ada bailnya anda segera melakukan tes atau konsultasi kedokter. Untuk mengetahui apakan anda benar-benar terjangkit firus sifilis ini atau tidak. Anda tidak perlu khawatir sekarang banyak cara untuk menghilangkan sebuah oenyakit apalahi anda memiliki niat untuk sembuh.

Untuk menghilangkan Gejala Sifilis Fase Tersier dengan:

– Infeksi dini sebagai pilihan penyembuhan pertama bagi sifilis rumit tetap satu dosis intramuskular penisilin G atau satu dosis oral azitromisin. Doksisiklin dan tetrasiklin adalah pilihan lainnya yang dapat anda ambil. Karena pengibatan ini terdapat resiko kelainan janin maka dosisiklin dan tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk ibu hamil meskipun ia sedang mengalami gejala sifilis fase tersier. Resistensi terhadap antibiotik telah berkembang pada sejumlah agen, termasuk makrolid, klindamisin, dan rifampin. Ceftriakson, generasi ketiga dari sefalosporin antibiotik, mungkin saja seefektif perawatan berbasis penisilin. Azitromisin termasuk dalam salah satu jenis antibiotik Macrolides, dimana obat generiknya sudah tersedia di Indonesia. Apabila dengan menggunakan satu dosis saja gejala sifilis fase tersier anda belum sembuh ada baiknya anda melakukan tes resistensi antibiotik untuk mengetahui antibiotik apa yang mempan untuk penyakit anda. Namun, Untuk anda melakukan tes resistensi antibiotik anda harus mencari laboratorium klinik yang melakukan tes dengan cukup lengkap.

– Infeksi akhir Bagi neurosifilis, akibat penetrasi yang lemah dari penisilin G ke dalam sistem saraf pusat. Mereka yang terkena dampak dari pinisilin G ini akan direkomendasikan untuk diberikan pinisilis intravena dosis tinggi paling tidak selama 10 hari. ika orang mengalami alergi, ceftriakson bisa digunakan atau desensitisasi penisilin dapat dicoba. Kemunculan akhir lain dapat diobati dengan penisilin G intramuskular sekali seminggu selama tiga minggu. Jika masih muncul alergi seperti diawal tadi, dabat digunakan doksisiklin atau tetrasiklin.

– Reaksi Jarisch-Herxheimer adalah salah satu efek samping yang akan muncul saat anda melakukan pengobatan gejala sifilis fase tersier ini. Reaksi Jarisch-Herxheimer sering dimulai satu jam setelah mengkonsumsi obat dan dapat bertahan selama 24 jam dengan gejala yang muncul seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala serta takikardia. Gejala takikardia isebabkan oleh sitokin yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap lipoprotein yang dikeluarkan dari bakteri sifilis yang pecah.

Semoga anda lebih mengerti dan mendalami tentang penyakit menular seksual ini. Apabila ada keluarga atau teman yang menderita gejala sifilis fase tersier anda dapat menerapkan apa yang sudah kita bahas diatas. Terima kasih.

Posted in Penyakit Sifilis | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Gejala Penyakit Sifilis

Gejala penyakit sifilis dapat muncul pada siapa saja dan kapan saja. penyakit sifilis adalah penyakit menular seksual yang berbahaya jika kita tidak tanggap untuk segera melakukan pengobatan. Penyakit ini disebabkan oleh firus Treponema pallidum. Firus Treponema pallidum adalah firus yang tidak dapat hidup diluar tubuh manusia dan dapat berkembang dengan cepat didalam tubuh manusia.

Penyakit sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau penularan yang berlangsung selama masa kehamilan dari ibu ke janin yang ada dalam kandungan. Spiroseta mampu menembus membran mokusa yang masih utuh atau ganguan kulit. Oleh karena itu dapat ditularkan melalui mencium area di dekat lesi, serta seks oral, vaginal, dan anal. Sekitar 30% sampai 60% dari anda semua yang terkena sifilis primer atau sekunder akan terkena penyakit tersebut. Contoh penularannya, seseorang yang disuntik dengan hanya 57 organisme mempunyai peluang 50% terinfeksi penyakit yang akan langsung muncul gejala penyakit sifilis. Sebagian besar (60%) dari kasus baru di United States terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Gejala penyakit sifilis tersebut dapat ditularkan lewat produk darah. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik tidaklah banyak.Penyakit Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktifitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.

Gejala Penyakit Sifilis

Gejala Penyakit Sifilis

Gejala Sifilis dapat dilihat berdasarkan tahapan infeksi Treponema pallidum menjadi 4 fase, yaitu :

1. Fase Primer

Ciri-Ciri :

Sifilis primer umumnya diperoleh dari kontak seksual secara langsung dengan orang yang terinfeksi ke orang lain. Terbentuk luka di kulit segabai gejala penyakit sifilis dinamakan chancre akan muncul sekitar 3-4 minggu setelah infeksi. Pada lesi ini biasanya tunggal, kokoh, tanpa rasa sakit, pemborokan kulit tanpa rasa gatal dengan dasar yang bersih serta berbatasan tajam antara ukuran 0,3 dan 3,0 cm. Walau bagaimanapun luka bisa dikeluarkan hampir dalam bentuk apapun. Luka atau ulkus yang tidak terasa sakit pada tempat yang terinfeksi, seperti pada penis, vulva dan vagina. Ulkus juga ditemui di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, dan jari-jari. Ulkus mulai timbul sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi sautu luka terbuka tanpa disertai rasa sakit. Ulkus tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan bening yang menular. ganda lebih umum ketika koinfeksi dengan HIV. Lesi dapat bertahan selama tiga hingga enam minggu tanpa pengobatan.

2. Fase Sekunder

Ciri-Ciri :

Ruam kulit muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah infeksi yang menjadi gejala penyakit sifilis. Sementara penyakit sekunder dapat dikenal dalam berbagai cara secara nyata, gejala-gejala paling umum berkaitan dengan kulit, selaput lendir, dan nodus limfa. ruam yang tidak gatal pada batang dan ekstrim, termasuk pada telapak tangan dan soles. Ruam itu bisa berbentuk datar, lebar, keputih-putihan, lesi mirip kutil dikenal sebagai kondiloma latum pada selaput lendir.Ruam bisa hilang meskipun tidak diobati, tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru dan juga muncul ulkus di mulut. Penderita akan mengalami beberapa peradangan, seperti pelebaran dan pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya, peradangan mata, tulang dan sendi, ginjal, hati, juga selaput otak.

Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala penyakit sifilis, tetapi terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Penderita juga mengalami peradangan pada tulang dan sendi yang disertai rasa sakit. Peradangan pada ginjal bisa menyebabkan protein masuk ke dalam urin. Peradangan hati bisa menyebabkan penyakit kuning (jaundice). Adapun peradangan pada selaput otak (meningitis sifilitik akut) akan menimbulkan gejala seperti menyebabkan sakti kepala, kerontokan pada rambut, ketulian, tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam, dan anemia.

3. Fase Laten

Ciri-Ciri :

Pada fase didefinisikan seperti mengalami bukti serologis dari infeksi tanpa gejala-gejala dari penyakit, seperti sembuh. Penyakit ini dijelaskan lebih lanjut sebagai lebih awal (kurang dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) atau akhir (lebih dari 1 tahun setelah sifilis sekunder) . Gejala penyakit sifilis ini berlangsung selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun, namun bisa muncul kembali yang didukung oleh beberapa faktor, seperti menurunnya sistem imunitas, perilaku seksual yang tidak sehat, pola makan yang tidak teratur, merokok, pola hidup yang tidak bersih, pemaparan ulang bakteri Treponema pallidum. Awal sifilis laten bisa mempunyai gejala- gejala kambuh. Akhir sifilis laten adalah asimptomatik, dan tidak menular seperti awal sifilis laten.

4. Fase Tersier

Ciri-Ciri :

Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya, tetapi timbul berbagai gejala seperti sifilis tersier jinak, sifilis kardiovaskuler, dan neurosifilis. Gejala penyakit sifilis tersier ini terjadi kira-kira 3 hingga 15 tahun setelah infeksi awal dan bisa dalam tida bentuk yang berbeda. sifilis gummatous (15%), akhir neurosifilis (6.5%),dan kardiovaskular sifilis (10%). Apabila anda tidak segera menjalani pengobatan, maka penyakit ini akan terus berkembang yang bukan termasuk dalam penular.

Gejala penyakit sifilis fase ini terjadi hingg 1 sampai 46 tahun setelah terinfeksi awal. Fase ini ditandai oleh pembentukan gumma kronik, yang lembut,mirip peradangan bola tumor. Bentuk dari gumma yang muncul dapat mempengaruhi kulit, tulang, dan liver yang bisa terjadi dimanapun.Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 tahun setelah infeksi awal. Komplikasi yang paling umum adalah syphilitic aortitis, yang dapat mengakibatkan pembentukan aneurisme.

 

Posted in Penyakit Sifilis | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Penularan Sifilis

Cara penularan Sifilis atau raja singa adalah dengan masuknya bakteri Treponema pallidum. penyakit sifilis atau penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Bakteri Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir, seperti selaput lendir di vagina atau mulut dan melalui kulit.

Cara Penularan Penyakit Sifilis

Cara Penularan Sifilis

Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual tetapi ada beberapa contoh lain seperti penularan melalui ibu ke anak dalam uterus. Ketika Treponema pallidum menginfeksi maka bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. spiroseta mampu menembus membran mokusa. Contoh Cara penularan penyakit sifilis adalah dengan seseorang yang disuntik menggunakan jarum suntik bekas dari orang yang positif meiliki penyakit sifilis. Sebagian besar (60%) dari anda memiliki resiko terserang penyakit sifilis apabila terjadi pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Cara penularan sifilis ternyata tidak ditularkan hanya lewat aktifitas sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan ataupun pakaian.

Pada kondisi yang jarang terjadi di Indonesia, cara penularan sifilis dapat menyebar melalui transfusi darah yang terinfeksi penyakit sifilis, melalui hubungan langsung kontak dekat dengan lesi aktif (seperti selama berciuman dengan pasangan), atau bahkan cara penularan penyakit sifilis juga dapat melalui ibu yang terinfeksi kepada bayi dalam kandungan selama masa kehamilan atau persalinan.

Penanganan Sifilis

Pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk penderita sifilis adalah  1. Tes Penyaringan seperti VDRL (Veneral Disease Research Laboratory) atau RPR (Rapid Plasma Reagin). 2. Tes Antibodi, seperti FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption)

1. Tes Penyaringan

Tes penyaringan mudah dilakukan dan biayanya terjangkau meskipun perlu dilakukan tes ulang karena pada beberapa minggu pertama sifilis primer hasilnya bisa negatif

2. Tes Antibodi

Tes antibodi adalah tes yang dilakukan terhadap bakteri penyebab sifilis. Salah satu pemeriksaan ini adalah tes FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption) yang digunakan untuk memperkuat hasil tes penyaringan yang positif. Pada fase primer atau sekunder, diagnosis sifilis diambil berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap cairan dari luka di kulit atau mulut. Selain itu, bisa juga menggunakan tes antibodi pada sampel darah.

Pengobatan pada penderita sifilis biasanya menggunakan antibiotik penicilin. Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau tetrasiklin per-oral selama 2-4 minggu. Penderita sifilis fase primer atau sekunder bisa menularkan penyakitnya. Oleh karena itu, penderita harus menghindari hubungan seksual sampai penderita dan mitra seksualnya telah selesai menjalani pengobatan. Namun, karena malu banyak penderita yang menjalani pengobatan tanpa konsultasi pada ahlinya sehingga penyakitnya bertambah parah.

3. Pengujian langsung

Pengujian yang dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop medan gelap. Namun tidak semua rumah sakit memiliki perlengkapan untuk melakukan tes langsung ini dan tidak semua rumah sakit pula yang memiliki staff yang ahli untuk melakukan pemeriksaan ini. Sensitivitastelah dilaporkan hampir 80%, sensitivitas dan spesifitas hanya dapat digunakan untuk konfirmasi diagnosis tapi bukan satu-satunya aturan.

Pencegahan Sifilis

Pencegahan yang paling efektif tentunya adalah tidak berhubungan langsung dengan orang yang memiliki penyakit kelamin menular atau penyakit sifilis. Setia pada satu pasangan dan tidak gonta-ganti pasangan adalah lebih baik bagi kehidupan seksual yang sehat. Mulai berhenti untuk tidak melakukan kontak seksual dalam jangka waktu yang lama yang dapat menjadi cara penularan sifilis. Mulai belajar untuk menghindari minum-minuman yang mengandung alkohol dan mulai berhenti menggunakan obat-obatan terlarang terutama dengan menggunakan alat suntik.

Cara penulara sifilis lainnya dengan membicarakan secara terbuka dengan pasangan mengenai riwayat penyakit sifilis yang pernah anda alami. Mulai membiasakan diri menggunakan kondom apabila akan melakukan hubungan seksual dengan pasangan atau dengan orang lain sekalipun dan pastikan anda telah menggunakan kondom tersebut dengan baik dan benar agar tidah menjadi alat sebagai cara penularan sifilis.

Orang yang rentan untuk cara penularan sifilis ini adalah:

– Seorang pria yang memiliki jalinan kasih dengan orang yang sesama pria atau sering kita kenal dengan nama homoseksual.

– Seseorang dari anda semua yang sudah terjangkit atau terinfeksi penyakit human immunodeficiency virus (HIV)

– Terlibat dalam sebuah aktivitas seksual yang berisiko sangat tinggi untuk cara penularan sifilis, termasuk hubungan seks tanpa menggunakan pengaman seperti kondom, hubungan seks dengan banyak pasangan atau orang yang tidak puas dengan satu pasangan saja, melakukan hubungan seks dengan pasangan yang baru bahkan dengan orang yang baru dikenal, atau melakukan hubungan seks di bawah pengaruh obat-obatan terlarang atau minuman yang mengandung alkohol.

Gejala Sipilis Pada Wanita

Banyak penderita sipilis terutama wanita kurang mengenali gejala-gejalanya sehingga mereka baru menyadarinya ketika penyakit sipilis sudah memasuki stadium lanjut. Wanita lebih mudah terjangkit sipilis karena memiliki alat kelamin yang lebih lembab dan basah sehingga bakteri akan lebih mudah menginfeksi dan akan menjadi cara penularan sifilis dengan mudah.Perlu diketahui jika penyakit sipilis ditularkan melalui hubungan seksual.

Gejala Sipilis Pada Pria

Cara penularan sifilis biasanya akan muncul benjolan dan luka di sekitar alat kelamin.  Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi yang menjadi gejalanya. Biasanya tidak terasa sakit Dalam beberapa minggu luka akan hilang, tapi justru bakteri akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh.

Posted in Penyakit Sifilis | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment